Sabtu, 07 Mei 2011

Penyakit "kecil" Dalam Diri

Sudah beberapa bulan lalu saya suka menyimak 'kicauan' pak Jamil Azzaini melalui akun twiternya, seorang motivator dan trainer yang saya 'kenal' dari twitter, sebelumnya gak tau siapa beliau ini. Ternyata kicauan-kicauan beliau membuat saya tertarik membuka catatan-catatan beliau di web pribadi beliau : www.jamilazzaini.com. Saya baca-baca catatan-catatan beliau yang inspiratif, lucu, menyegarkan dan membuat semangat :) Bagus pokoknyaa~

Eh, jadi kayak iklan yaaa~ :D

Sebenarnya seperti dicatatan saya sebelumnya tentang Siapapun adalah seseorang! Disitu saya pribadi berharap siapapun bisa menjadi motivator bagi dirinya, dan alangkah baiknya bisa memotivasi orang lain juga. Siapapun bisa menjadi seseorang dalam hal ini seseorang yang baik, menginspirasi, dan mampu menjadi teman bahkan sahabat melalui lisan, tulisan, dan sikap kesehariannya. Sehingga, seperti yang aa Gym bilang, mulailah dari diri sendiri, dan jagalah hati! (Halah, dilempar sendal!) Tapi beneraan~ ya sudah.. iya iyaa baca sendiri aja yang belum baca catatan saya yang itu ya.. :p *kepedean mau dibaca, dilempar sendal Crocs* :))

Nah! Habis buka-buka web pak Jamil itu.... saya merasa perlu menyebarkan info yang menurut saya sangat-sangat keren! JANGAN SEPELEKAN YANG KECIL.

Kita sering meremehkan yang tampak positif dalam segi kalimat, yang ternyata ini mampu menjerumuskan kita walau samar-samar dan perlahan. Hal-hal kecil ini, mampu menjadi penyakit dalam diri.. Hmm entah saya suka sekali bahas tentang hal ini, karena saya merasa membutuhkan sebagai pengingat. *serius* Hal yang saya maksud adalah kesombongan. (Catatan saya yang lain, yang menyinggung tentang itu di Life is So Short!)

Sebagai pengingat lagi, dari Abdullah ibnu Mas'ud RA berkata,
“Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.”

Kata pak Jamil, beberapa contoh ”penyakit” kecil yang bisa menjerumuskan itu bisa merusak diri kita tanpa kita sadari. Berikut contoh-contohnya, "Saya sudah tahu ; Saya orangnya memang begini, dan  Hiduplah mengalir seperti air."

Saya sudah tahu. Saya tanya : emang apa yang kita sudah tahu? Wawasan keduniaan? Bekal agama yang merasa cukup? Atau pernyataan-pernyataan : Wah, saya tahu segalanya! Padahal, masing-masing manusia tidak lepas dari sifat lupa dan tidak tahu. (Qs Yusuf : 42, Al Kahfi : 24, dll) Kata pak Jamil, padahal dengan kita mengatakan : "Saya sudah tahu." sesungguhnyalah ketika itu kita telah berhenti berkembang. Orang lain terus maju berkembang dengan ilmu-ilmu barunya sementara orang itu stagnan dan akhirnya ditinggalkan zaman.

Saya orangnya memang begini. Kata beliau, "sering saya mendengar orang yang sedang dinasehati, ikut training maupun seminar yang berkomentar, “Saya orangnya memang begini, mau diapa-apain saja tidak akan berubah. Udah gak usah nasihatin saya, gak mungkin saya berubah…” Bila kita punya penyakit ini, maka hati kita semakin keras, tidak mau menerima nasihat dan tidak mau berubah ke arah yang lebih baik. Setiap masukan, kritik atau saran yang membangun dianggap sebagai hujatan dan penghinaan."
Kalau kata saya, kita jadi dianggap tidak mau menerima keadaan orang lain apa adanya, atau yang jeleknya kita dianggap terlalu ikut campur dengan pribadinya. "Ya emang gue gini, suka-suka gue.." Padahal dia sudah membuat kebencian dan kesedihan. *Ngaca, nunjuk-nunjuk muka sendiri*
(Catatan saya yang menyinggung masalah ini ada di Menjadi Diri Apa Adanya, atau???)

Hiduplah mengalir seperti air. Kata beliau, ada yang mengatakan kita tidak perlu merencanakan hidup kita, biarkan hidup itu mengalir toh setiap air yang mengalir selalu menuju ke laut.  Sebenarnya tidak semua air yang mengalir selalu menuju ke laut, ada juga yang ke comberan, septic tank dan tempat-tempat kotor yang lain. Bila Anda tak merencanakan hidup Anda jangan menyesal bila nanti di masa tua ternyata Anda berada di "comberan" (yang terakhir ini Jleb Jleb banget deeeh... T_T)

Semoga bermanfaat.
@dianmartiandani

11 komentar:

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan...

yang gede iu vermula dari yang kecil...

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan...

btw, blognya saya follow ya ^^

Dian Eka mengatakan...

Makasih yaa ^^

Salah atau benar yg kecil itu awal dari yang besar :)

ninda~ mengatakan...

aku mampir juga ah ke situs yang sedang direview mbak dian ini

aku juga suka ngikuti tulisan salim A. Fillah di twitter mbak tapi saya memang jarang buka twitter hehehe malas

Dian Eka mengatakan...

Ninda~ masing2 emg malas dibeberapa socmed yah hehe.. Happy reading there ^^

choirunnangim mengatakan...

assalamu'alaikum mba Dian?
iya harus ibda' binafsih (mulai dari diri sendiri)..
semanngat

Nufri L Sang Nila mengatakan...

waaaaaaaaaaa....kereeeennnnn....cerita penuh inspirasi seperti ini yang dibutuhkan....mantapp !!!

:)

Dian Eka mengatakan...

@choirunnangim. Wa'alaikmslm choir. InsyaAllah, makasih ya tambahan kata2 nya ^^

@Nufri. Iyaa abis baca dari web aslinya tu, mantep2 tulisannya.. Jd semangat dn positif thinking :) Makasih yaa..

switch 6 mengatakan...

ditunggu updatenya ^^

16 September mengatakan...

Hae pemilik blog...

sepertinya blog anda masuk dalam daftar bookmark saya... hehehe...

terimakasih sudah mau berbagi... :-D

Dian Eka mengatakan...

Switch 6. Monggo.. monggo ^^

16 September. Sangat berarti buat saya :) Makasih juga ya, noe