Senin, 02 Mei 2011

Diam adalah Emas?

Habis baca blognya si Nova membuat saya makin semangat untuk posting tentang Diam (tulisan tentang diam alaa Nova, klik di sini)

Siap-siap baca yaa~ 
 
Beberapa hari yang lalu saya juga dapat tulisan tentang Diam dari seorang teman. Seolah sih menyindir saya yang kesindir :D saya yang suka ngomong, cerita, gak sabaran, dan diam kalo cuma tidak nyaman pada satu situasi atau emang lagi menikmati diri dengan diam (halah apa sih). Paling tidak, ada banyak hal yang penting perlu kita pahami tentang Diam.

Tentang Diam ini bukan mau membahas apalagi gosipin orang2 pendiam. Orang pendiam sih menurut saya, beda dengan orang yang paham arti diam. (hehe bukan sok paham lho ya). Maksudnya, orang pendiam karena memang dia diam, dia diam karena memang karakter dasarnya, atau bisa karena pemalu, atau yang kurang baik karena ia rendah diri, dll.

Saya ingin singgung soal kalimat ini : Diam adalah Emas.

Banyak hikmah yang kita dapat dengan Diam. Sikap Diam dengan berbagai situasi, memberi banyak nilai tambah untuk kita. Terutama untuk siapa yang bicara tanpa ada muatan manfaat di dalamnya. (Jleb! Jleb! T.T mengingatkan diri.) Di atas saya sudah singgung, bahwa yang hendak saya bahas ini sikap Diam, bukan Pendiam. Kalau Nova sudah singgung, jangan sampai Pendiam ini menodai kalimat Diam adalah Emas Hahaha.. ckck (baca tulisannya)

Diam yang hendak saya bahas adalah lebih kepada mengatur LISAN kita agar saat Diam kita adalah disaat yang TEPAT. Bukan disaat harus bicara malah Diam, atau sebaliknya.


Kalo saya pernah dengar dari seseorang (ya Allah, lupa dari siapa), saya terinspirasi pendapatnya : "Jika Diam adalah Emas, maka Berkata Baik adalah Dinar*." Lalu saya berpendapat, bahwa :

Pepatah "Diam adalah Emas" hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak memilih "Berkata Baik" dalam kesehariannya, yang memilih tidak memakai filter bagi lisannya. 

Artinya, orang-orang yang seperti inilah yang Diam adalah Emas baginya, karena tidak diamnya mereka hanya membawa kesedihan bagi orang-orang yang mendengarnya, menimbulkan kebencian, permusuhan, kejengahan, dan lain lain yang tentu akibatnya ketidak nyamanan dalam pertemanan, apalagi persahabatan. Misalnya, bicaranya penuh tinggi hati, hanya ingin didengar, berisi kesombongan, tidak ada empati, tidak menghargai pendapat, kasar, penuh hinaan, dan lain lain. Semoga hadits nabi saw berikut jadi pengingat dan bekal kita, 


Dari Sahl bin Saad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang bisa menjamin bisa menjaga lisan yang ada di antara dua tulang rahangnya dan kemaluan yang ada di antara kedua kakinya maka aku jamin dia akan masuk surga” (HR Bukhari no 6109).


Dari akun twitter saya, malam minggu kemarin saya sudah nulis tentang Diam. Semoga berkenan.

Twitter bs mnjadi pelampiasan bagi org yg pendiam & pemalu utk ngoceh di dpn orang byk, jg bagi org2 yg suka bicara tp saat sendirian.
30 Apr via ÜberSocial
termasuk ibadah yg dianjurkan tanpa harus lelah (melakukan gerak fisik)
30 Apr via ÜberSocial
mencipta kewibawaan tanpa harus ada kekuasaan dan kekayaan.
30 Apr via ÜberSocial
membuat kita tak perlu banyak meminta maaf karena tajamnya lisan.
30 Apr via ÜberSocial
memberi ruang dan waktu bagi akal utk memikirkan kebesaran tuhan lbh dalam.
30 Apr via ÜberSocial

Dan seterusnya..


Di atas saya singgung, bahwa diam mampu menimbulkan kewibawaan tanpa harus ada kekayaan dan kekuasaan, contohnya saat kita dihadapkan dalam perdebatan. Disaat genting, diam mencipta ketenangan, ia tidak lantas mengeluarkan pendapat sesuka hati tanpa memberi kesempatan orang lain. Dengan diam pula, kita memberi kesempatan buat diri kita untuk belajar menjadi pendengar yang lebih baik :)


Semoga kita bisa menjadi pendiam dengan ilmu, dan berbicara dengan ilmu juga. Aamiin.

Allahu A'lam bishowab


*Dinar adalah satuan alat tukar yang digunakan sejak zaman rasulullah, dengan standar yang tidak pernah berubah hingga sekarang, terbuat dari emas 22 karat (atau sama dengan sekitar Rp. 1.800.000,-)

10 komentar:

Chelonia Mydas mengatakan...

Komentator pertama.. :)

Diam erat kaitannya dengan menjaga lisan, artinya kita berusaha untuk menjaga omongan kita agar terhindar dari hal yg sifatnya hasut maupun hujat,.

sehingga kita sangat disarankan untuk berbicara seperlunya.

Kebanyakan org (faktor personality individu)lebih suka di dengar dr pd mendengar, sehingga tdk smua org berusaha untuk mencoba "merendahkan hati"nya untuk mendengarkan (diam) perkataan org lain..

Faktor personality yg sy maksud;
Sanguinis: dominasi "bicara" dr pd "diam"
plegmatis: dominasi "diam" dr pd "bicara"

Itu analisis sy..
Terima kasih.

Dian Eka mengatakan...

Saya setuju dg analisis chelonia :) tipe sanguinis mmg tipe yg suka didengar, suka menjadi pusat perhatian, dan ini perlu dilatih lebih keras jika ia ingin menjadi "pembicara" yg didengar, yakni dengan belajar menjadi pendengar yg baik. Atau paling tidak apa yg si sanguinis bicarakan ini memberi manfaat :)

Makasih ya :)

Ra-kun lari-laRIAN mengatakan...

diam memang baik kalau pada tempatnya.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

tul mendingan ngomong di blog aja ya.

Nashrul mengatakan...

ada yang bilang, "mungkin itulah kenapa Allah menciptakan bibir hanya satu dan telingga ada dua, agar manusia lebih banyak mendengar daripada bicara".
postingan ini sekaligus renungan buat kita bersama.

oya, kayaknya saya pernah juga baca buku yang membahas tentang tipe-tipe manusia, seperti Sanguinis dan setrusnya. kalo boleh tahu Judul bukunya apa ya?

Nashrul mengatakan...

eh... maksudnya Mulut ding,,, bukan bibir he he he......kalo bibir kan ada 2, tapi 1 pasang

Follow balik ya..

Dian Eka mengatakan...

@mbak fanny kan ya? :D Setuju hihi..

@Nasrul. ahaha.. baru mau blg klo bibir ada DUA :D Klo buku yg sy baca ttg karakter2 dasar gak ada, bacanya di internet :p

cinderajiwaekoharyanto mengatakan...

saya setuju mbak. . .

ketika seseorang merasa lebih baik diam maka diamnya itulah yang terbaik. .

tapi juga mesti faham kapan dia harus berbicara. .

agar saat dia diam . . .diamnya itu emas. .

dan saat dia berbicara. . berbicaranya juga jadi emas

Yugo mengatakan...

@Mba dian, nice posting :) semoga membantu kita lebih berhati-hati dalam berkata-kata, agar mendapat kesudahan yang baik dari setiap ucapan kita.

Rasulullah pernah berpesan, "Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya." (HR Abu Daud)

@All, buku ttg personality yg pernah saya baca judulnya Personality Plus :)

Dian Eka mengatakan...

@Eko. Betul :) Makasih yaa...

@Mas Yugo. Aaamiin insyaAllah... Makasih tambahan haditsnya ya mas.. :)