Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

Sedih & Bahagia

Sedih rasanya lihat blog saya hari ini. Tahun 2012 hanya ada 3 tulisan. TIGA saja dalam satu tahun, ya Allaaah.. /nangis Sepertinya rasa moody untuk menulis semakin menerjang saya, padahal berjuta-juta kali saran untuk menulis sering sampai pada telinga, yang intinya cuma satu, mau nulis ya MENULISLAH. Jika yang awalnya "sekedar" luapan emosi, tak tertata, dan tulisan random, lama-lama jika mau mencari tema tulisan pasti akan semakin baik. (Menyemangati diri).

Tapi lagi-lagi kok kebangetan, cuma tiga dalam satu tahun. Kalau ada yang bilang, daripada ngga nulis sama sekali, saya jawab, "iya sih, tapi.." Oke ya sudah, memang daripada tidak ada tulisan sama sekali. Apa saja, yang penting bukan berisi makian dan sumpah serapah ya, hehe..

Jadi, sejak bulan April 2012 kemarin saya ditawari seorang saudara seiman untuk bekerja di sebuah perusahaan milik kakak iparnya. Sudah jodoh dari Allah, akhirnya sudah hampir setahun saya membantu mempersiapkan foto-foto produk dan beberapa hal yang berhubungan dengan tampilan web *sujud syukur* Bukan, bukan web design, tapi tim kreatif dari produksi perusahaan ini. AlhamduliLlah, sampai detik ini, saya sangat sangat sangat excited mengerjakan hal-hal yang berbau foto-foto, desain foto, desain materi marketing, dan banyak lagi /gemes *sujud syukur lagi*

Inilah dia, dengan bahagia saya menampilkan produk-produk perusahaan di mana saya bekerja saat ini, ini dia penampakan foto-fotonya; Missmarina /senyum

Aksesoris Missmarina

Indonesian's Heritage: Modern Kawung Batik Shawl

Salah satu kalung produk Missmarina


Tak menempatkan segala karunia Allah di hati, tapi mensyukuri sampai kelak jika Allah menakdirkan hal lain agar tidak berkecil hati apalagi putus asa dari rahmatNya. Just play with your work in front your face /senyum


Kamis, 22 Desember 2011

Pretty Little Liars

Saya percaya, banyak dari manusia di bumi ini mempunyai dark side alias sisi rahasia yang ingin "dirapikan"-nya. Saya terpikir ini lagi setelah melihat serial tv Pretty Little Liars yang lagi hangat di Amerika Serikat. Diangkat dari buku serial dengan judul yang sama, karangan Sara Shepard. Ada yang pernah dengar? Atau malah ngikutin serialnya? Yang saya tahu, harus langganan tv kabel dulu supaya bisa nonton serial ini, tepatnya di channel ABC Family, di bawah Disney Group. Sebenarnya bukan mau mereview serial tv ini sih, tp izinkan saya menceritakan empat tokoh ceritanya ya.. Awal tahu ada serial tv ini bukan karena lihat tayangan iklannya di TV, bukan, wong di rumah aja ngga punya tv hehe.. tapi dari iseng-iseng menjelajah situs Youtube, lalu terdampar di salah satu video singkat tentang serial tv ini. Akhirnya malah penasaran..

Secara garis besar cerita Pretty Little Liars tidak jauh dari judulnya, persahabatan 4 remaja cantik di satu sekolahan di kota Rosewood, yang mempunyai rahasia masing-masing, yang ingin ditutupi dengan berbagai kebohongan. Sebenarnya persahabatan mereka awalnya terdiri dari 5 orang, tapi di saat rahasia mampu mereka simpan rapi, tiba-tiba satu dari mereka berlima menghilang secara misteri, dan sejak saat itu, mulai muncul teror oleh satu sosok yang tak diketahui, yang menginisialkan diri "A" mengancam akan membongkar rahasia mereka, bahkan mereka berempat mulai mendapat tuduhan bahwa mereka lah yang membunuh satu sahabat mereka itu. Mereka berempat adalah : Aria Montgomery (diperankan Lucy Hale), Spencer Hastings (diperankan Troian Bellisario), Hanna Marin (diperankan Ashley Benson), dan Emily Fields (diperankan Shay Mitchell), terakhir sahabat yang menghilang secara misterius itu bernama Alison DiLaurentis (diperankan Sasha Pieterse). Benar, serial tv yang diangkat dari buku cerita berseri ini memang mengangkat jalan cerita misteri yang menuntut rasa penasaran, bahkan di beberapa adegan menunjukkan beberapa petunjuk siapa pelakunya, agak-agak berbau detektif. Menarik.


Pemeran Aria, Hanna, Spencer, dan Emily

Rahasia-rahasia mereka masing-masing antara lain, sebuah hubungan percintaan seorang murid dengan guru muda mereka dan mempunyai adik yang suka mencuri (klepto), rahasia ini dimiliki Aria. Sebuah hubungan percintaan rahasia seorang adik yang menyukai kekasih kakaknya, rahasia ini dimiliki Spencer. Bersusah payah memelihara penampilan dan penyakit bulimia yang dirahasiakannya, rahasia ini dimiliki Hanna. Terakhir, rasa cinta pada seorang Alison yang dirahasiakannya dari teman-teman dan orangtua sendiri, rahasia ini dimiliki oleh Emily. Yes, Emily menyukai Alison bukan sekedar seorang teman.

Lalu kita, saya, dan setiap orang kebanyakan, saya percaya juga menyimpan rahasia yang memang ingin disimpan rapi. Setidaknya satu, dan yang membedakan adalah kadar bahaya dan kerugian yang ditimbulkannya. Saya secara pribadi menghargai tiap sisi rahasia yang dimiliki orang lain yang memang ingin disembunyikannya. Secara sadar memaklumi, karena setiap rahasia bagi saya adalah keniscayaan, selagi tidak mengakibatkan satu bahaya atau kerugian bagi orang-orang disekitarnya kelak, misalnya : penyakit yang kita malu mengakuinya atau keadaan keluarga yang kita tutup-tutupi tapi disisi lain harus menikah, tentu saja jika terus dirahasiakan ini akan merugikan pasangannya kelak.

Well, karena rahasia adalah keniscayaan, selamat menyimpan rahasia itu teman..   Jagalah selagi itu tidak merugikan siapapun, dan cukup menjadi rahasia berdua dengan Sang Pencipta. Ada yang mempunyai pendapat lain?



Selasa, 20 Desember 2011

Menjadi diriku ataupun dirimu..

Beberapa kali mengalami situasi, menghadapi beberapa teman yang benar-benar membuat saya banyak belajar untuk mengendalikan lisan dan ego. Sungguh. Siapapun tahu masing-masing orang mempunyai karakter yang beda-beda. Where-ever we live on this planet, pasti akan menghadapi perbedaan karakter. Tulisan saya sebelumnya yang menyinggung soal jadi diri sendiri apa adanya ada di sini. Ngga salah kok kita membanggakan diri kita apa adanya. Tapi tentu bukan sembarang apa adanya yang tanpa memandang situasi, kondisi, dan tanpa pengendalian diri. (alm KH Zainuddin MZ mode) *serius* Seperti halnya kita melakukan satu hal atau menunjukkan satu sikap, sudah pasti punya alasannya masing-masing. Tulisan tentang ini ada di sini.

"Di antara jutaan ciptaanNya yang bernama manusia,
aku hanya ingin menjadi  diri sendiri.
Yang terus belajar mendengar dengan hati.."


Siapapun, teman-teman, termasuk saya, pasti menginginkan pertemanan yang jujur, tulus, dan penerimaan apa adanya. Tapi sepertinya saya berkali-kali ditegur oleh situasi yang membuat saya termenung, bahwa untuk mendapatkan atau memberikan pertemanan yang seperti itu perlu semacam kesungguhan. Saya tidak ingin muluk-muluk. Alasan dalam tiap sikap yang tampak itulah yang akan menjadi sopir menuju tujuan dalam bersikap. Kita bisa menyebutnya dengan "niat". Lagi-lagi kita tahu, kepastian dari hal itu hanya pelaku dan Sang Pemilik nyawa yang mengetahui. Tapi, untuk menampakkan kejujuran, ketulusan, dan penerimaan apa adanya ini hanya akan dimiliki oleh kesungguhan. Mengapa harus malu? Mengapa harus takut? Mengapa harus pura-pura? Mengapa harus marah? Di saat apa yang kita lakukan telah sedemikian kita pertimbangkan sebab akibatnya, dan dengan upaya kejujuran, ketulusan, dan penerimaan apa adanya tadi.

Ketika menghadapi situasi dan kondisi yang memancing ketidaknyamanan pada hati, saya hanya berusaha memilih untuk berkata baik atau DIAM (tulisan tentang ini ada di sini) dan perlu mengasah emosi lagi untuk menempatkan situasi marah pada tempatnya. Karna si pemarah bukanlah orang yang sekedar bisa marah-marah seenaknya, meski makna yang umum demikian. Pahamilah bahwa marah juga perlu. Lucunya saya pernah menemui orang yang dengan susah payah menampilkan sosok anggun, bukan tipe pemarah, tapi ketika saya singgung soal sikap tidak berpendirian (plin plan) tiba-tiba marah, akhirnya saya cukup memahami teman tersebut. Mungkin dia belum seutuhnya menjadi diri apa adanya, mungkin dia masih perlu waktu lagi untuk menemukan jati dirinya sendiri, dan hal ini pantas untuk saya dan teman-teman jadikan sebuah ilustrasi jendela, bukan lagi cermin yang hanya melulu melihat diri, tapi juga membuka jendela itu untuk melihat apa yang ada di baliknya, beragam manusia.


Masih perlu belajar lagi, selalu..

Sabtu, 18 Juni 2011

Moody

Jelek amat sih judulnya? Ya, begitulah.. Manusia tak pernah bisa menebak perubahan perasaannya sendiri, membuktikan kalau ada Penguasa hati manusia. Saya percaya itu. Sekuat-kuatnya seseorang, bisa galau moody juga. Apa sih artinya moody? di google sih artinya murung. Kalau disinonimkan dengan bahasa indonesia yang lain, artinya sedih. Betul tidak? Bukan mau curhat sih, karena memang saya terbilang tertutup tidak terbiasa curhat di media sosial apapun. Yaa, sebenarnya bisa juga sih dikatakan curhat, tapi lebih nyaman jika disebut sebagai sharing :) *alesan lagi kan*



Dalam setiap perubahan rasa dalam hati, terkadang manusia berjuang untuk melakukan beberapa hal ; menahan diri, menghibur diri, menyemangati diri, lalu ada yang tidak mempunyai kekuatan lebih untuk mengendalikan diri. Setiap hubungan manusia selalu ada bermacam-macam kejadian, ya. Itu juga tergantung karakter masing-masing orang yang berkumpul dan berinteraksi. Masing-masing melakukan manuver diri untuk membuka interaksi dengan lawan bicaranya. Masing-masing mempunyai cara dan taktiknya sendiri.

Macam-macam kejadian di setiap hubungan memang tak pernah selalu sesuai, pas, atau klop dengan apa yang menjadi "idealisme" saya, kita. Tentunya kita harus tahu ada empat karakter dasar seseorang. Itulah yang memunculkan pelangi di setiap hubungan. #eaaa *ssstt ok serius!*  Tidak pernah ditemukan dalam satu kelompok atau sekumpulan manusia, muda, tua, yang karakternya samaaa semua. Niscaya terjadi gesekan atau perbedaan atau jauhnya harapan yang menjadi penyebab moody ini. Tapi selalu ada siasat dalam sebuah situasi. Setuju kan? (^.^)

Terkadang di saat kita menyangka telah menemukan sebuah hubungan yang begitu mesra, hangat, atau indah, seolah kitalah satu-satunya yang diperhatikannya, ternyata kita sedikit atau banyak meleset. Pernah? Hehe.. Yang perlu dipahami oleh siapapun di saat seperti itu hanya satu, bahwa manusia tidak diciptakan sama persis. Saya menyukai nasihat Aa Gym. Selalu menyentuh sisi kemanusiaan seseorang. Apa adanya dan so damn true!  
"Jika manusia selalu takut dan sibuk memikirkan penilaian orang lain. Niscaya ia sulit menemukan dirinya dalam pribadi yang dewasa dan matang. Sibuk mengemas topeng, lupa mengemas hati. Mengaku tidak sibuk mengemas topeng, tapi juga tidak mengemas hati.
Kira-kira begitu. Lupa persisnya.

Lalu satu lagi, ada latar belakang yang berbeda-beda yang membentuk sikap seseorang dalam mengambil keputusan. Tentu saya, kita, tidak bisa memaksakan seseorang untuk sama karena hal ini. Kita sama-sama manusia bukan? Saya rasa ada baiknya menyodorkan berbagai tuntutan itu kepada diri sendiri dulu, sebelum mengajak orang lain dengan cara yang sewajarnya. Seperti rasulullah Muhammad, shalallahu alaihi wasallam, yang menauladankan sebelum menasihatkan dengan sunnah-sunnahnya di dalam hadits.

Jangan terlalu takut karena salah, tapi belajarlah..
Jangan terlalu berani karena benar, tapi bijaklah..

________________________________________

Senin, 13 Juni 2011

Mengenal deBlogger (Komunitas Blogger Depok)

Sekumpulan kata-kata berkumpul di otak, lalu dikumpulin lagi di sebuah media, bisa hanya sekedar di selembar kertas, buku diary, catatan perjalanan, sampai ke sebuah media terluas tanpa batas, yakni di internet. Saya sangat-sangat suka mengumpulkan kata-kata di pikiran, tapi jarang ngumpulinnya di selembar kertas lagi. Terakhir tulisan tangan saya kapan ya? Itulah, mungkin nyatat apa-apa yang mau dibeli di supermarket atau kalau kepepet, hape mati dan sedang jauh dari laptop.

Untuk menulis tulisan di internet saya cenderung nyiubi :p alias anak bawang, walau body anak gajah. Berawal membuat blog di Blogspot (2008), yang kemudian lama tak terurus, sempat ditinggal selingkuh ke dunia facebook, dan akhirnya mulai menulis lagi di Blog dan baru setahun lebih -dikit. (lol)

Singkat cerita di sebuah pertemuan pemerhati film Indonesia (MataSinema) saya mengenal mas Iman Sulaiman yang ternyata seorang tukang aktif (maksudnya aktifis hehe..) di Komunitas Blogger Depok, yang disingkat KBD hehe nggak ding, ini dia nama komunitasnya deblogger*jeng jeng*. Melalui beliau lah saya mengetahui adanya komunitas ini. Amat sangat cupu. Saya masih ingat beliau beberapa kali mengajak saya gabung di komunitas itu, tapi mungkin karena saya yang penyendiri agak sungkan dan belum tergerak sehingga selama ini sebatas baca-baca web nya. Apalagi saya tinggal di Jakarta dan cukup jauh dari Depok *alesan*   Komunitas ini, setahu saya adalah tempat berkumpulnya blogger-blogger di sekitaran Depok. Tapi dari seorang blogger depok juga yang ternyata merupakan isteri mas Iman :) yang di dunia maya menggunakan nama Cici Silent, saya dapat informasi bahwa komunitas ini ada sebelum adanya komunitas-komunitas bagi blogger-bloger Jakarta (correct me if i'm wrong, ya). Sehingga mereka yang berdomisili di Jakarta pun ada yang menjadi anggota deBlogger. 


Nah, jadi saat ini saya sedang memulai pedekate dengan komunitas ini dengan amat sangat perlahan tapi insyaAllah saya sangat ingin menyapa lebih dekat (cozy) Salam hangat untuk semua teman-teman blogger depok..



Tidak ada kesiasiaan di setiap pikiran dan tindakan yang positif, jadi bergabung di sebuah komunitas yang senantiasa pro akan kampanye Internet Sehat pun saya percaya sangat banyak manfaatnya, walau mungkin 'sekedar' pertemanan.

Salam hangat,
@dianmartiandani

Sabtu, 11 Juni 2011

Senyum dan Tawa

Kayaknya postingan saya terlalu serius beberapa akhir-akhir ini, tapi begitulah, sejatinya bukan semata sharing apa yang ada di pikiran saya. Hanya saya percaya pada nasihat sepupu sekaligus menantunya nabi Muhammad saw, "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya." (Ali ibn abi thalib)

Nah, akhir-akhir ini saya sedang menikmati sesuatu yang jauh dari serius! Saya merasa terhibur dengan sesuatu yang bener-bener kreatif dan kocak. Tp bagi orang-orang bertipe korelis dan Serius bin tegang, dijamin gak betah sama hal-hal seperti ini, bahkan menganggap semua ini non sense dan buang-buang waktu. Hmm saya pribadi sih tidak akan mengambil serius situasi ini, tidak berdosa untuk sesekali tersenyum bahkan tertawa untuk melemaskan syaraf-syaraf yang menegang, untuk merespon hal-hal kocak yang sedang akhir-akhir ini saya nikmati di dunia maya.

Siapapun adalah seseorang, kalimat ini sering saya katakan pada diri. Bukan sekedar menghibur diri untuk bangkit walau kalaupun memang demikian juga tidak salah. Tapi kalimat itu untuk mengajak teman-teman agar tidak mudah terpesona pada dunia, pada manusia yang begitu tampak mempesona, karena sejatinya tiap manusia sudah tuhan beri keistimewaan masing-masing. Hanya mau atau tidak untuk mengembangkannya. Hanya ingin menjadi sekedar pemuja, atau belajar untuk menjadi seseorang juga? Ayo guys and gals!

Nah, ini dia mereka yang menjadi seseorang dengan kreatifitas mereka, yang berhasil menghibur saya. Mereka adalah si Bena, si Alit, dan Pocong (yang saya masih heran, si Poci ini kok bisa (katanya) fenomenal gitu ya? coba liat deh followernya di twitter, ada yang bisa bantu saya? yaa tolong dibantu yaa..) *dilakban* Mereka sama seperti kita, sama-sama manusia biasa kok, tapi mereka unik, mampu menghibur dengan kreatifitas masing-masing di blog mereka, (kecuali pocong, dia mah bukan manusia, tapi jenazah hehehe..). Di antara mereka, saya paling appreciate sama si Bena, salut banget dengan karya video kocaknya dan game nyonnyonnyon.com buatan dia! Bangga karena game ini tipe riddle (teka-teki) yang menuntut IQ, asli INDONESIA! Saya sudah sampai level 5 lhoo~ :D (alias macet gak tau lagi jawabannya apa T.T) Hmm, untuk alit dan poci, kurang suka dengan kata-kata kasar yang dijadikan bahan lelucon mereka berdua, walau mereka tetep kreatif dan cerdas. (untuk alit, saya suka pelajaran bahasa inggris di web nya haha... (lol) ) Mereka bertiga sukses melemaskan ketegangan syaraf saya :) makasih yaa

Tambahan! Teman-teman coba juga kunjungi blog nya bang Nufri deh. Sungguh kocak! (hehe.. traktir ya bang sudah promoin :p ) Blog itu mengingatkan saya pada serial Lupus di masa-masa saya masih kanak-kanak :D

Baiklah teman, sungguh, senyum dan tawa itu termasuk karunia Allah swt, teman. Hanya alangkah baiknya kita membingkainya dalam senyum dan tawa yang secukupnya :) bagi teman muslim, tentu telah ada nabi muhammad sebagai tauladan terbaik (Qs Al Ahzab : 21) kalau kejauhan, tentu kita punya hati nurani masing-masing yang bisa kita mintai fatwa.

Salam senyuuuum :-))
@dianmartiandani

_________________________________________

Senin, 23 Mei 2011

Pelangi Anak : Pelajaran di Setiap Hal

Waktu yang efektif bagi seseorang untuk merenungi sesuatu adalah di saat sendiri. Di saat seperti itu, ia hanya akan berdialog dengan diri dan Zat Yang Maha Tinggi. Di tulisan saya Diam adalah Emas, salah satu waktu untuk kualitas merenungi kekuasaan Allah dalam diri dan sekitarnya adalah saat diam. Terdapat ruang di sana untuk merenung. Di ruang diam (sendiri), ia membicarakan dirinya sebagai manusia yang kapanpun bisa menjemput maut, entah kapan.

Namun ada satu waktu yang tak melulu harus menyendiri untuk merenungi sesuatu hal atau kejadian. Dalam artian tidak benar-benar sedang sendiri. Di saat keramaian mengelilingi diri kita pun, kesendirian bisa terasakan. Di saat inilah, siapapun bisa saja merenungi apa-apa yang ia lihat dan ia dengar. Saya tidak akan membicarakan diri saya. Yang ingin saya bagi adalah sebuah kejadian yang membuat saya merenung ketika saya sedang sendiri di tengah keramaian.

Masing-masing orang mempunyai latar belakang yang berbeda. Cara didik orang tua, sikap lingkungannya, kebiasaan dalam keluarga, dan lain-lain. Semua menjadi faktor pembentuk pola pikir dan karakter seseorang dalam mengambil keputusan. Sekecil apapun besar resikonya. Tiap kejadian di sekitarnya, dari lahir hingga mampu berpikir, akan menjadi bagian-bagian memori yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar seseorang. Yang akan berperan besar dalam membentuk  sikap seseorang dalam menghadapi sesuatu. Sekecil apapun masalahnya, seremeh apapun kejadiannya.

Suatu hari, di perjalanan pulang dari kegiatan. Di sebuah shelter Busway di grogol - Jakarta Barat. Saya melihat pemandangan ibu dan dua anaknya yang sedang menunggu Busway, saya juga. Terjadilah sesuatu yang membuat hati saya sedih. Yakni kalimat-kalimat yang terlontar dari si Ibu ketika anak-anaknya yang masih berusia 9-10 tahun saling bercanda tawa.
"Heh! Diem kagak lo!? Kalo kagak gua dorong juga lo!" Sambil nyubit lengan si anak yang tersenyum kecut, mungkin menahan malu dan sakit.
Antara kaget dan bingung dengan jalan pikiran si ibu, saya hanya terdiam memandang kejadian itu dengan pilu. Hanya bisa menyebut nama Allah.. apalagi saya belumlah pantas menilai sikap barusan. Sedih. Lalu suatu hari, di pengajian rutin saya biasa hadir. Tak terlalu jauh dari rumah. Ada rasa bahagia ketika berjumpa dengan teman-teman di sana. Bagi saya lebih tepatnya sekumpulan saudari-saudari seiman :) Oke, bukan itu yang mau saya bahas hehe.. Nah, salah satu teman membawa anak batitanya. Usianya mau 3 tahun. bayi yang lucu, menggemaskan, dan ramah >,< Hingga akhirnya, si bayi menumpahkan susu kemasan yang mau diminumnya. Olala, tumpah di bajunya dan alas di mana kami duduk. Si ibu marah! Ya, marah. Begini marahnya,
"Eh.. Udah ya dedek.. jangan ditekan-tekan dong pintar! Udah disedot aja, jangan ditekan... Umi nggak bawa baju ganti dedek.." Sambil mengelap tangan batitanya yang belepotan susu dengan tisu. Si batita sedikit tersipu malu karena merasa bersalah, dilihat teman-teman uminya, termasuk saya yang tersenyum gemas padanya.
Di lain situasi. Ketika saya berada di sebuah lokasi tempat saya bekerja. Ada kejadian yang berbeda lagi dari dua kejadian di atas. Seorang anak yang cantik, pintar, lincah, dan percaya diri. Di sela-sela pekerjaan saya yang hanya sebagai asisten saat itu, saya memandang kejadian yang membuat saya tanpa sadar merekamnya. Si anak asyik dengan gadget bukan miliknya, iPod touch yang bagi saya merupakan barang canggih. Tidak akan saya jabarkan detil karena saya gagap teknologi.. :p Dia taruh Blackberry miliknya.
"Mama... keren iPod nyaa.. nanti beliin ini yaa.. yaa yaa...?" Sambil tetap asyik, orang-orang disekelilingnya senyum-senyum kepadanya, memperhatikannya.
"Nanti aja ya.." Mamanya berkata
"Aaah nggak, pokoknya iyaa... oke okee..." dan si ibu diam.
Lalu, salah satu orang dewasa disebelahnya berkata, "Iiih, kamuu pinter banget, gemes deh.." si anak satu-satunya anak-anak disitu.



Saya termenung dengan tiga situasi yang berbeda ini. Antara senyum gelisah, sedih, prihatin, khawatir lalu entah apa rasa yang tepat untuk menyimpulkannya. Bersyukur masih ada yang begitu santun dan mendidik kepada anaknya. Sudah pasti akan banyak timbul pendapat dari kejadian-kejadian itu. Saya, yang belumlah sempurna diin nya.. (masih separuh karena belum menikah :p) tentu tak banyak yang bisa saya bahas. Karena tentu menyangkut hal bagaimana seorang IBU mendidik anaknya, memberikan contoh perbuatan (baik maupun buruk), menghadapi sikap-sikap tingkah laku anak, belumlah lagi menghadapi suami atau ayah anak-anaknya, yang saya BELUM ALAMI :')

Namun saya tetap ingin mencobanya, mencoba menyinggungnya dari sisi si anak. Yang pertama, saya yakin, si anak tidak tahu dimana letak kesalahannya, yang ia tahu, ibu nya tidak suka dia bercanda tawa. Artinya, bercanda tawa adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukannya. Ini yang akan menjadi memori seumur hidup dalam pikiran bawah sadarnya. Yang kedua, si anak menangkap bahwa saat minum susu kemasan tidak boleh ditekan, dan kejadian barusan baginya sebuah pelajaran, ibu nya marah, tapi ia tetap anak pintar. Tidak ada tekanan atau sikap yang menyakitkan. Yang direkam pikiran bawah sadarnya adalah, ibunya mempercayainya bahwa ia pintar, dan ia salah ketika ia menekan kemasan hingga susu tumpah mengotori baju satu-satunya, karena ibunya tidak membawa baju ganti. JANGAN SALAH, semua ini benar-benar akan direkam oleh pikiran bawah sadar si anak. Di saat otak dan akal belum mampu membedakan mana yang salah dan benar, dan karena anak-anak belum memakai hawa nafsu, maka pikiran bawah sadar yang murni dan jujur lah yang merekam tiap kejadian yang di alaminya. Yang ketiga, si anak merasa setiap yang dilakukannya adalah hal wajar, tidak salah. Jika terus dibiarkan pikiran bawah sadar anak akan menyimpan pola pikir ini hingga dewasa. Apalagi jika ia terus berada dikeliling orang-orang dewasa yang memuji-mujinya, tanpa teguran atau nasihat.

Semoga para wanita, khususnya muslimah, mau terus belajar untuk terus mendidik dirinya, untuk mendidik anak-anaknya.. aamin
Salam hangat, @dianmartiandani

Rabu, 11 Mei 2011

Langgam Sahabat..

Langgam sahabat.. Langgam artinya gaya irama dalam nyanyian / senandung atau gaya khas atas sesuatu atau adat kebiasaan. Sahabat artinya seseorang yang mendukung ditiap impian-impian kita, pekerjaan, dan menghibur disaat duka, terlepas dari sisi negatif atau positif.

Saya menyukai pertemanan, saya mencintai persahabatan, dan ini merupakan hal yang siapapun juga merasakan demikian. Sejahat apapun hatinya. Siapapun bisa menjadi seorang sahabat dalam hidupnya. Siapa saja. Tergantung pada prinsip masing-masing dirinya. Hendak menjadi sahabat dalam hal apakah kita? Hendak menjadi sahabat yang seperti apakah kita?

Jika kita mempunyai sahabat yang begitu mencintai kita, sering mendukung kita dalam setiap pekerjaan kita, lalu menghibur kita disaat kita mendapat kesedihan, wah betapa bahagianya kita ya? Tapi adakah sahabat yang mencintai kita itu mengingatkan kita dikala kita melakukan kezhaliman? Maka disini kita akan menemukan jawaban, sahabat seperti apakah yang telah setia pada kita itu.



Ada ungkapan yang saya baca di web pak Jamil Azzaini (ya, saya sedang sangat menyukai tulisan-tulisan beliau) : Orang yang selalu merendahkan orang lain ketika bersama Anda, iapun akan merendahkan Anda ketika ia bersama orang lain. Apa yang sahabat pembaca pahami dari ungkapan ini?

Bagi saya, kalimat ini bukan untuk sekedar menilai sahabat seperti apakah sahabat kita. Tapi menjadi pengingat diri, sahabat seperti apakah kita bagi orang lain? Atau mungkin bahkan kita bukanlah sahabat siapa2? Mungkin kita tidak menyadari, ungkapan di atas sebenarnya ditujukan kepada kita pribadi. Di saat kita bersama seseorang, apa yang kita bicarakan kepadanya? Membicarakan hal-hal yang baik kah? Atau merendah-rendahkan orang lain didepannya? Kesimpulannya, jika YA jawabannya, maka kita BUKAN lah seorang sahabat kebaikan, akan tetapi kita adalah sahabat KEZHALIMAN.


Lalu pertanyaan lagi, benarkah jika seorang sahabat merendahkan orang lain di depan kita, iapun akan merendahkan kita didepan orang lain. Saya katakan, ya. Karena seseorang dapat kita lihat bagaimana watak aslinya, disaat kita berinteraksi dengannya lalu berdiskusi atau sekedar berbincang-bincang dengannya, lalu melihat caranya menyelesaikan permasalahan-permasalahan. Jika kita melihat cara dia memperlakukan seseorang lain dengan buruk dihadapan kita, maka itulah kebiasaannya. Langgam sahabat yang buruk..


If you can't to be a friend, don't be a disturber.
If you can't to be a friend, don't be a hurter.
Because, when we disturb and hurt, we are not a friend, moreover a bestfriend.

tapi..

"Siapapun bisa menjadi sahabat. Sahabat kepongahan atau sahabat kerendahhatian. Sahabat kelaliman atau sahabat kebenaran. Choose it."

_________
Salam sahabat,
@dianmartiandani

Sabtu, 07 Mei 2011

Penyakit "kecil" Dalam Diri

Sudah beberapa bulan lalu saya suka menyimak 'kicauan' pak Jamil Azzaini melalui akun twiternya, seorang motivator dan trainer yang saya 'kenal' dari twitter, sebelumnya gak tau siapa beliau ini. Ternyata kicauan-kicauan beliau membuat saya tertarik membuka catatan-catatan beliau di web pribadi beliau : www.jamilazzaini.com. Saya baca-baca catatan-catatan beliau yang inspiratif, lucu, menyegarkan dan membuat semangat :) Bagus pokoknyaa~

Eh, jadi kayak iklan yaaa~ :D

Sebenarnya seperti dicatatan saya sebelumnya tentang Siapapun adalah seseorang! Disitu saya pribadi berharap siapapun bisa menjadi motivator bagi dirinya, dan alangkah baiknya bisa memotivasi orang lain juga. Siapapun bisa menjadi seseorang dalam hal ini seseorang yang baik, menginspirasi, dan mampu menjadi teman bahkan sahabat melalui lisan, tulisan, dan sikap kesehariannya. Sehingga, seperti yang aa Gym bilang, mulailah dari diri sendiri, dan jagalah hati! (Halah, dilempar sendal!) Tapi beneraan~ ya sudah.. iya iyaa baca sendiri aja yang belum baca catatan saya yang itu ya.. :p *kepedean mau dibaca, dilempar sendal Crocs* :))

Nah! Habis buka-buka web pak Jamil itu.... saya merasa perlu menyebarkan info yang menurut saya sangat-sangat keren! JANGAN SEPELEKAN YANG KECIL.

Kita sering meremehkan yang tampak positif dalam segi kalimat, yang ternyata ini mampu menjerumuskan kita walau samar-samar dan perlahan. Hal-hal kecil ini, mampu menjadi penyakit dalam diri.. Hmm entah saya suka sekali bahas tentang hal ini, karena saya merasa membutuhkan sebagai pengingat. *serius* Hal yang saya maksud adalah kesombongan. (Catatan saya yang lain, yang menyinggung tentang itu di Life is So Short!)

Sebagai pengingat lagi, dari Abdullah ibnu Mas'ud RA berkata,
“Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.”

Kata pak Jamil, beberapa contoh ”penyakit” kecil yang bisa menjerumuskan itu bisa merusak diri kita tanpa kita sadari. Berikut contoh-contohnya, "Saya sudah tahu ; Saya orangnya memang begini, dan  Hiduplah mengalir seperti air."

Saya sudah tahu. Saya tanya : emang apa yang kita sudah tahu? Wawasan keduniaan? Bekal agama yang merasa cukup? Atau pernyataan-pernyataan : Wah, saya tahu segalanya! Padahal, masing-masing manusia tidak lepas dari sifat lupa dan tidak tahu. (Qs Yusuf : 42, Al Kahfi : 24, dll) Kata pak Jamil, padahal dengan kita mengatakan : "Saya sudah tahu." sesungguhnyalah ketika itu kita telah berhenti berkembang. Orang lain terus maju berkembang dengan ilmu-ilmu barunya sementara orang itu stagnan dan akhirnya ditinggalkan zaman.

Saya orangnya memang begini. Kata beliau, "sering saya mendengar orang yang sedang dinasehati, ikut training maupun seminar yang berkomentar, “Saya orangnya memang begini, mau diapa-apain saja tidak akan berubah. Udah gak usah nasihatin saya, gak mungkin saya berubah…” Bila kita punya penyakit ini, maka hati kita semakin keras, tidak mau menerima nasihat dan tidak mau berubah ke arah yang lebih baik. Setiap masukan, kritik atau saran yang membangun dianggap sebagai hujatan dan penghinaan."
Kalau kata saya, kita jadi dianggap tidak mau menerima keadaan orang lain apa adanya, atau yang jeleknya kita dianggap terlalu ikut campur dengan pribadinya. "Ya emang gue gini, suka-suka gue.." Padahal dia sudah membuat kebencian dan kesedihan. *Ngaca, nunjuk-nunjuk muka sendiri*
(Catatan saya yang menyinggung masalah ini ada di Menjadi Diri Apa Adanya, atau???)

Hiduplah mengalir seperti air. Kata beliau, ada yang mengatakan kita tidak perlu merencanakan hidup kita, biarkan hidup itu mengalir toh setiap air yang mengalir selalu menuju ke laut.  Sebenarnya tidak semua air yang mengalir selalu menuju ke laut, ada juga yang ke comberan, septic tank dan tempat-tempat kotor yang lain. Bila Anda tak merencanakan hidup Anda jangan menyesal bila nanti di masa tua ternyata Anda berada di "comberan" (yang terakhir ini Jleb Jleb banget deeeh... T_T)

Semoga bermanfaat.
@dianmartiandani

Senin, 02 Mei 2011

Diam adalah Emas?

Habis baca blognya si Nova membuat saya makin semangat untuk posting tentang Diam (tulisan tentang diam alaa Nova, klik di sini)

Siap-siap baca yaa~ 
 
Beberapa hari yang lalu saya juga dapat tulisan tentang Diam dari seorang teman. Seolah sih menyindir saya yang kesindir :D saya yang suka ngomong, cerita, gak sabaran, dan diam kalo cuma tidak nyaman pada satu situasi atau emang lagi menikmati diri dengan diam (halah apa sih). Paling tidak, ada banyak hal yang penting perlu kita pahami tentang Diam.

Tentang Diam ini bukan mau membahas apalagi gosipin orang2 pendiam. Orang pendiam sih menurut saya, beda dengan orang yang paham arti diam. (hehe bukan sok paham lho ya). Maksudnya, orang pendiam karena memang dia diam, dia diam karena memang karakter dasarnya, atau bisa karena pemalu, atau yang kurang baik karena ia rendah diri, dll.

Saya ingin singgung soal kalimat ini : Diam adalah Emas.

Banyak hikmah yang kita dapat dengan Diam. Sikap Diam dengan berbagai situasi, memberi banyak nilai tambah untuk kita. Terutama untuk siapa yang bicara tanpa ada muatan manfaat di dalamnya. (Jleb! Jleb! T.T mengingatkan diri.) Di atas saya sudah singgung, bahwa yang hendak saya bahas ini sikap Diam, bukan Pendiam. Kalau Nova sudah singgung, jangan sampai Pendiam ini menodai kalimat Diam adalah Emas Hahaha.. ckck (baca tulisannya)

Diam yang hendak saya bahas adalah lebih kepada mengatur LISAN kita agar saat Diam kita adalah disaat yang TEPAT. Bukan disaat harus bicara malah Diam, atau sebaliknya.


Kalo saya pernah dengar dari seseorang (ya Allah, lupa dari siapa), saya terinspirasi pendapatnya : "Jika Diam adalah Emas, maka Berkata Baik adalah Dinar*." Lalu saya berpendapat, bahwa :

Pepatah "Diam adalah Emas" hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak memilih "Berkata Baik" dalam kesehariannya, yang memilih tidak memakai filter bagi lisannya. 

Artinya, orang-orang yang seperti inilah yang Diam adalah Emas baginya, karena tidak diamnya mereka hanya membawa kesedihan bagi orang-orang yang mendengarnya, menimbulkan kebencian, permusuhan, kejengahan, dan lain lain yang tentu akibatnya ketidak nyamanan dalam pertemanan, apalagi persahabatan. Misalnya, bicaranya penuh tinggi hati, hanya ingin didengar, berisi kesombongan, tidak ada empati, tidak menghargai pendapat, kasar, penuh hinaan, dan lain lain. Semoga hadits nabi saw berikut jadi pengingat dan bekal kita, 


Dari Sahl bin Saad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang bisa menjamin bisa menjaga lisan yang ada di antara dua tulang rahangnya dan kemaluan yang ada di antara kedua kakinya maka aku jamin dia akan masuk surga” (HR Bukhari no 6109).


Dari akun twitter saya, malam minggu kemarin saya sudah nulis tentang Diam. Semoga berkenan.

Twitter bs mnjadi pelampiasan bagi org yg pendiam & pemalu utk ngoceh di dpn orang byk, jg bagi org2 yg suka bicara tp saat sendirian.
30 Apr via ÜberSocial
termasuk ibadah yg dianjurkan tanpa harus lelah (melakukan gerak fisik)
30 Apr via ÜberSocial
mencipta kewibawaan tanpa harus ada kekuasaan dan kekayaan.
30 Apr via ÜberSocial
membuat kita tak perlu banyak meminta maaf karena tajamnya lisan.
30 Apr via ÜberSocial
memberi ruang dan waktu bagi akal utk memikirkan kebesaran tuhan lbh dalam.
30 Apr via ÜberSocial

Dan seterusnya..


Di atas saya singgung, bahwa diam mampu menimbulkan kewibawaan tanpa harus ada kekayaan dan kekuasaan, contohnya saat kita dihadapkan dalam perdebatan. Disaat genting, diam mencipta ketenangan, ia tidak lantas mengeluarkan pendapat sesuka hati tanpa memberi kesempatan orang lain. Dengan diam pula, kita memberi kesempatan buat diri kita untuk belajar menjadi pendengar yang lebih baik :)


Semoga kita bisa menjadi pendiam dengan ilmu, dan berbicara dengan ilmu juga. Aamiin.

Allahu A'lam bishowab


*Dinar adalah satuan alat tukar yang digunakan sejak zaman rasulullah, dengan standar yang tidak pernah berubah hingga sekarang, terbuat dari emas 22 karat (atau sama dengan sekitar Rp. 1.800.000,-)

Sabtu, 23 April 2011

Demi Allah, bersama kesulitan ada kemudahan :)


Subhanallah panjang bener judulnya.. :D Tapi itu ngetiknya dengan sepenuh hati, teman. Sungguh-sungguh penuh syukur mengucapkannya, insyaAllah :')

Jadi teh gini ceritanya, sejak kemarin pagi Allah memberi ujian berupa pompa air yang mati mendadak. Hmm, pasti pada bilang : "Panggil tukang apa susahnya?" atau "Please deh gitu doaang..." atau "Ukhtiy perlu bantuan ane?" (pangeran berkuda hitam legam datang ke rumah mau benerin pompa air, jyah!) hhehe.. su'udzon ya saya :D maap maap..

Tapi sebenarnya semua tidak akan menjadi rumit jika kita solutif, fokus pada solusi, mohon sama Allah akan pertolonganNya, lalu tawakal. MasyaAllah, mudahnya ngetik tulisan itu, tapi demi Allah itu satu-satunya rumus paling canggih sedunia, yang Warren Buffet aja memakainya! (percaya deh!) Saya memang tipe orang yang to the point, walau pasti ada kekurangan dari hal ini, saya jadi tampak kurang empati pada sekitar, karena maunya cari solusi, solusi, dan solusi, dan gak suka berkutat lama-lama pada masalah atau lelah karena takut pada banyak hal tanpa mau menjalaninya atau mencoba melewatinya terlebih dahulu.

Nah, kembali ke masalah pompa air yang macet. Bagi saya memang sepele, simpel to the solution, manggil tukang, dicek penyebab macetnya, tanya berapa harga barang yang rusak, beri kepercayaan padanya untuk membelikan sekaligus memperbaikinya, sediakan minum dan cemilan yang layak, tanya berapa biaya jasa service nya, lalu BERES! Tapi ternyataaa..... TIDAK SESIMPEL itu bagi ibu saya! T_T

Kebetulan, ibu saya memang tipe orang yang sangat berhati-hati (beda dengan saya yang polos, *dilempar kran*), pilih-pilih tukang, dan niteni (sangat memperhatikan) mana tukang yang bisa dipercaya dan mana yang suka ngakalin. Alhasil, kerepotan pun terjadi, panik! Karena disisi lain khawatir air mulai menipis, disisi lain butuh tukang segera. Telpon kesana kemari, menyuruh saya untuk menghubungi teman-teman saya (siapa tahu ada info tukang terpercaya), termasuk adik saya yang kerja di Bandung, disuruh pulang untuk bantuin ngecek (mumpung long weekend), sampai meledak kemarahan karena adik menghubungi kalau batal ke Jakarta (padahal sudah kita jemput di poll travel di Melawai) *ngurut dada*

Hhh~ yah, mau tidak mau, akhirnya, dengan kepasrahan ibu menelpon seorang tukang dengan harap-harap cemas pula. Dalam hati saya juga bismillah, insyaAllah apa yang dikhawatirkan (yang menurut saya agak berlebihan itu) tidak terjadi, aamiin. Dengan mantap pula saya menghubungi tukangnya tanpa menunggu adik saya yang masih nyangkut juga di Bandung. Singkat cerita, persis! Ya, persis seperti apa yang ada di bayangan saya, semua berjalan tanpa hambatan yang berarti atau kekhawatiran-kekhawatiran yang terjadi. Bi idznillah. Alhamdulillahirabbil 'aalamiin..... *sujud syukur di pojok kamar*


Teman, saya jadi kembali merenung, sebenarnya... pada dasarnya setiap apa-apa yang terjadi disetiap langkah kita itu semua Kehendak Allah Yang Maha Berkehendak, kita suka ataupun tidak. Kecil ataupun besar. Mau kita tawar pakai kekayaan kita atau amal shalih kita pun jika Allah Berkehendak lain ya harus kita terima. Kita lewati bersama solusi yang sudah disediakanNya. Tinggal kita mau mencarinya dengan teliti, dan menjemput solusi itu atau tidak. Lalu satu lagi kunci penting : TAWAKAL setelah upaya dan doa. KEPERCAYAAN PENUH pada Allah subhanahu wata'ala. Apa jadinya jika kita selalu ketakutan, khawatir, menyelidik karena tidak percaya akan sesuatu, akan banyak pertolongan yang tidak jadi datang karena kita secara tidak sengaja "menolak" nya.

"Sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan."
- Qs Al Insyirah : 6

Pertolongan Allah mengalir seperti air kran dengan lancar, sesuai prasangkaan hambaNya, setelah upaya, doa, dan tawakal

Demikian edisi Pompa air yang rusak T_T

Kamis, 21 April 2011

Kartini Seorang Muslimah

Selamat ulang tahun bunda, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, dan menerima segala kebaikan dan perjuanganmu sebagai seorang muslimah. Aamiin..

Hari ini tanggal 21 April 2011, 132 tahun yang lalu seorang bayi cantik lahir ke dunia di sebuah kota di Jawa Tengah, Jepara nama kotanya. Dia lah bayi yang kelak menjadi sesosok wanita jawa yang sederhana, elegan, anggun, cerdas, dan memiliki semangat yang tinggi untuk berilmu. Raden Adjeng Kartini. Ia wanita sederhana, bersih hati, keturunan ningrat sekaligus keturunan tokoh agama dari sang bunda, dan berjiwa pemimpin. Garis keturunan yang nyaris sempurna ini tak membuatnya sombong dan menjadi tak peduli akan sekitarnya. Kebersihan hatinya lah yang membuatnya berontak akan ketidakadilan yang terjadi di depan matanya.

RA Kartini, sejak di usia remaja menjadi sosok yang pemikir, penuang ide dengan berani. Lalu lingkungan ibu beliau yang dari seorang kiyai, secara langsung membentuknya sebagai sosok muslimah moderat yang cerdas dan berbudi luhur. Ia bukanlah pemberontak agama, justru ia cerdas mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi pada wanita-wanita jawa atas ilmu, pembelajaran, dan pengetahuan akan lingkungan sekitarnya. Sedih akan pelarangan wanita-wanita jawa 'jelata' untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Ia tuturkan cita-citanya untuk menjadi Guru, namun harus pupus karena beliau telah dinikahkan.

Beliau sungguh wanita pecinta ilmu dan rindu untuk membagikannya pada sesama kaumnya. Suatu ketika mendapat pengalaman buruk saat mengaji Al Qur'an di usia remaja. Karena kekangan Belanda, Al Qur'an dilarang untuk diterjemahkan, saat itulah beliau mempertanyakan pada guru ngajinya arti dari sebuah ayat yang dibacakan dan kemarahan yang diterimanya. Pada seorang ulama besar dari Semarang yang sedang mengisi pengajian keluarga di rumahnya lah beliau mencurahkan perasaannya, dan menunjukkan kecintaannya pada ilmu, khususnya ilmu agama Islam. Ulama tersebut, Kiyai Muhammad Shalih ibn Umar as Samarani. Bunda Kartini berguru langsung dan kepada Kiyai Shalih, ia memohon menerjemahkan Al Qur'an kedalam bahasa Jawa, demi keterangan ilmu agar lebih dipahami. Kemudian terjemahan Al Qur'an tersebut menjadi hadiah pernikahan bunda Kartini dengan Adipati Rembang (1903) dari sang guru, kiyai Shalih.

Door Duisternis Toot Licht...


Inilah kalimat yang sering beliau tulis berkali-kali dalam suratnya kepada sahabatnya Mrs. Abandenon. Ia begitu terinspirasi dari terjemahan Al Qur'an yang beliau dapat selama berguru pada Kiyai Shalih. Ia begitu berharap akan rahmat Allah agar terus membenderanginya. Ia curahkan mimpinya dalam suratnya kepada Ny.Van Kol, 21 Juli, 1902, yaitu: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”


Kalimat yang begitu bermakna bagi beliau itu dalam bahasa Indonesia sudah sangat menyejarah, yakni : "Habis gelap terbitlah terang.." Yang didalam Al Qur'an, ada pada ayat 257 di Surah Al Baqarah : "...Minazhzhulumaati ilannuur.." Terbukti, bahwa beliau seorang muslimah yang begitu mencintai ilmu agama Islam. Allah Maha Berkehendak, setiap taqdir ada hikmah disebaliknya, setelah kiyai Shalih wafat, beliau belum rampung mempelajari Al Qur'an dalam bahasa Jawa, dan dengan kisah hidupnya berkeluarga dengan adipati Rembang yang singkat (1903 - 1904), kemudian beliau wafat 4 hari setelah melahirkan puteranya yang pertama dan terakhir (R.M Soesalit), di usia 25 tahun.


_______

Semoga muslimah tak pantang menyerah untuk terus mempelajari jutaan ilmu yang terserak di sekitar kita lalu mencintainya dengan segenap jiwa, di sebuah madrasah kehidupan... hmmm :) Aamiin..

Salam hangat untuk seluruh muslimah Indonesia,
@dianmartiandani

Senin, 18 April 2011

Siapapun adalah seseorang!

Saya suka sekali baca buku-buku motivasi, cerita-cerita pengalaman hidup seseorang, psikologi manusia (masyarakat) dan sejenisnya. Sebuah hal yang menyenangkan ketika saya mampu mengunyah dan mencerna setiap detil cerita yang dituliskan oleh penulisnya. Tentu saja, satu syarat yang harus ada saat membacanya adalah, kisah yang diceritakan dibersamai dengan kesimpulan hikmah yang dipulangkan pada Sang Pencipta kehidupan.

Beberapa hari yang lalu, saya dapat kado ulangtahun, salah satunya sebuah buku berjudul Notes From Qatar. Buku ini berisi tulisan-tulisan, bagaimana seorang penulisnya (Muhammad Assad) menjabarkan detil pengalamannya menjadi sebuah hikmah yang sangat luar biasa, lengkap dengan bagaimana ia mengaitkan kisahnya dengan Sang Pencipta dan penggenggam hidupnya. Sederhana, jelas, padat, dan berbobot.

Segala sesuatu, sebenarnya diawali dari sebuah kisah sederhana, teman. Bahkan ketika bangun tidur dan mengerjapkan mata karena masih tersisa kantuk pun, kita bisa mengisahkan sebuah hikmah. Renungkan, apa yang bisa kita siapkan jika kita dalam bahaya, sedang kita dalam keadan tidur? Maka, sehebat apapun penjagaan yang sempurna dikerahkan oleh seorang manusia, tak ada yang sanggup memastikan kita aman, meski dalam keadaan terjaga sekalipun, apalagi saat tidur.

:) hehe tentu bukan untuk nakut-nakutin, di dunia ini tak ada yang tidak pernah tidur. Jadi, ada hikmah yang bisa diambil dari sebuah kejadian 'sederhana' tersebut : Bahwa manusia tidak akan bisa melebihi daya upaya Sang Pemilik langit dan bumi, meski dengan segenap kekuasaan dan kekayaannya.

"dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu)."
- Qs Al Ankabut : 39

Mereka, contoh sosok yang hancur karena sombong atas kekuasaan dan kekayaannya. Dan inilah contoh hikmah dari rasa Maha PengasihNya Allah kepada hambaNya, disaat tak berdaya (tidur). Nah, dari buku yang saya baca itu, saya berkesimpulan, Assad just an ordinary man, with million extraordinary thoughts! Allah loves him. Setiap catatan-catatan nya ia jabarkan di buku itu dari sebuah kisah-kisah sederhana menjadi luarbiasa. Lalu banyak orang yang terinspirasi dari setiap kata-katanya. Suka ^^  Tapi sesungguhnya...

Siapapun adalah Seseorang!

Ya, itu yang ingin saya katakan. Tadi pagi saya ngetweet melalui akun twitter saya tentang sebuah rasa yang sangat bahaya jika dimiliki seorang manusia. (hehe lebay ah) Tapi serius.. :) rasa itu diketahui dengan sebutan sombong. Sang rasul saw mendefinisikannya sebagai berikut : "Sombong itu merendahkan orang lain dan menolak kebenenaran." - HR Muslim dan Tarmidzi. Tentu bahaya bukan, jika kita merendahkan orang lain (yang belum tentu kita lebih baik darinya) dan menolak kebenaran (yang jelas-jelas baik untuk kita). Na'udzubillahi mindzalik..

Berikut tweets saya tadi pagi yang sengaja saya beri hastag #IngatkanDiri :

Di atas langit masih ada langit, tundukkan hati dr keangkuhan nan tinggi, merasa lebih hebat dan memandang rendah org lain. #IngatkanDiri 


Yahudi sgt mbanggakan kecerdasannya, hingga lupa perintah tuhannya yg dirisalahkan o/ nabi2 mereka. Kesombongan menutupi hati. #IngatkanDiri 


Apa yang sbnrnya membuatmu bangga diri dihadapan manusia? Padahal tak pernah tahu kemana kita berpulang, syurga atw neraka. #IngatkanDiri 


Mntertawakan kesalahan orglain, pandang sebelah mata & mngeluarkan kata2 sindiran mnghina, seolah kita selamat dr nerakaNya. #IngatkanDiri 









Allahu a'lam bishshowab.

Jumat, 19 November 2010

WOW : Ajaibnya Wanita!

Membahas tentang wanita dan atribut yang nempel dalam sosok wanita sepertinya gak akan ada habisnya. Menarik, unik, rumit, sensitif, sok kuat, kuat beneran, gampang nangis, cengeng - eh sama aja tau!, cantik - gak mungkin ganteng kan!, penyayang, pinter masak - yg pinter!, dan kawan-kawannya, dan satu yg konon katanya sering disimpulkan laki-laki (eiya gak sih?) bahwa wanita itu : nyebelin. AH MASA!!? *singsing lengen baju, ngajak berantem* *eh gak jadi ding, aurot* :D

Saya baru selesai baca tulisan seorang blogger, dari info yang saya dapat, beliau dipanggil mbok venus (pendiri web ngerumpi.com) beliau bercerita tentang wanita itu cantik dengan segala karakter dan sifat masing-masing. Dalam kerangka pikir saya, wanita itu kesimpulannya adalah AJAIB. Sungguh, banyak kisah yang pasti sudah teman-teman baca tentang tokoh-tokoh wanita yang dengan keajaibannya masing-masing mampu menyejarah. Tentu saja sejarah ini cukup sebagai bekal yang positif, diketahui, dihayati, dipilih, mana yang layak jadi contoh.

Tentu saja pernah baca kan kisah syahidah pertama, sumayyah walau mungkin sepintas, atau tentang dahsyatnya 'pesona' cleopatra, atau kisah agung dan penuh cinta, bunda khadijah, atau kisah wanita suci yang diistimewakan Allah swt, bunda maryam, atau kisah-kisah wanita zaman jauh melompat setelah mereka di atas? Seperti, prestasi ratu elizabeth II yang menjadi ratu di usia 26 th (sampai sekarang, 84 th), kemudian mantan menantunya yang menawan, princess of wales Diana (nama saya!!) atau yang indonesia punya, pahlawan muslimah nan anggun Cut Nyak Dien, pahlwan muslimah nan lembut hati yang terkenal dengan istilah "Habis gelap terbitlah terang", bunda Kartini. Atau wanita-wanita Indonesia yang berpengaruh lainnya, yang kalo disebutin satu-satu panjang, jadi mending search sendiri di google ya hehe.. 

Yang pasti, semua mempunyai pengaruh, baik positif maupun negatif. Termasuk kita, yg termasuk dalam generasi muda (hmmmmmm.. katanya sih dibawah 30 msh termasuk Gen-Youth, hehehe..) Apapun karakter dan sifatnya seperti yang mbok Venus cerita di blog nya, menurut saya, tetaplah memiliki prestasi, entah kecil maupun besar, dimata orang yang mencintai, sampai orang yang tak dikenalnya sekalipun. Setuju kan?

Inti keajaiban wanita bagi saya adalah, ia kuat. Selemah apapun perasaannya, fisik yang tak sekuat lelaki, atau mungkin pengaruh yang tak sekuat pria, apapun itu, wanita itu KUAT. Ada hadits rasul saw, “Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR Bukhari) Hayati lagi maknanya, memang semua itu benar, bengkok dalam hadits itu adalah menjauh dari kebenaran. "Waduh mbak, kayaknya kok rendah banget ya wanita itu..." Hehe.. ya jangan dipahami begitu, Allah adil kok, klo laki-laki yang memahami hadits ini kemudian sombong dan merasa lebih hebat, RASAKAN nanti akibatnya!! *lhoh, emosih sayah* :D etapi bener, Allah Maha Adil dengan segala yang terjadi di langit dan di bumi, so, hadits ini tak akan membuat wanita menjadi hina, karena hina hanyalah akibat dari perbuatan sendiri yang amoral dan jauh dari agama.

Rusuk. Apa sih fungsi rusuk itu? Yang saya tahu, dengan kemiskinan saya tentang anatomi tubuh, fungsi rusuk antara lain melindungi jantung dan paru-paru. Melindungi "kehidupan". Maka kesimpulan bahwa wanita itu kuat, gak salah kan? Silahkan lho klo ada pendapat lain ;)

Nah, iseng-iseng saya buka situs http://www.iknow.co.id/wow/  Yang laki-laki gak usah ikutan buka ya :p Saya tertarik dengan situs ini karena satu hal, yakni istilah : WOW, Why Only White. Yang sebenarnya sudah lama saya dengar, tapi baru sekarang saya buka hehehe.. sempet jadi hastag menarik di twitter.com tapi tetep belum tertarik juga waktu itu. Hal ini amat berhubungan dengan karakter dan sifat wanita dengan keajaibannya masing-masing. Mengapa hanya putih? Padahal ada merah, biru, hijau, kuning, dll. Pertanyaan ini menurut saya pertanyaan yang mengajak para wanita membuka diri dengan hal-hal selain "putih" yang membuat mereka menjadi pesona dan keajaiban sesuai dengan dirinya. Satu hal yang penting diperhatikan, selagi hal itu tidaklah keluar dari moral dan agama yang diajarkan. Yang menarik dari web ini adalah, ini! : 

Ini hasil test personality saya yang ada di web tersebut :D *ya ampun, miss perfect? -,-

Sebenarnya sih, web ini untuk adek-adek saya hehehe.. makanya ada kata little sebelum kata miss :p makanya di awal saya tulis, saya cuma iseng, karena bagi saya ini hanya info yang belum tentu 100% benar, bagi saya seperti ramalan bintang, atau kuis-kuis aplikasi yang ada di FB. *mulai kan bela dirinya alias ngeles* Bagusnya, hasil yang baik membuat sedikit tambahan semangat untuk percaya diri lagi :D 

Wanita, dengan berbagai karakter dan sifatnya perlu dukungan dan penghargaan, itu hak. Untuk terus membaik, untuk terus menghebat dan menyejarah dengan prestasinya bagi keluarga, orang-orang yang dicintai ataupun orang-orang yang tidak mencintainya sekalipun. Tapi sehebat apapun wanita jika keluar dari fitrahnya, keluar dari moral dan aturan agama, saya rasa akan memanen apa yang ditanam. Allah Maha Adil lagi Maha Pengasih Sayang.. :)

Wallahu a'lam bishowab

Jumat, 08 Januari 2010

Maka, ambisius itu bukanlah Sang Pemimpi!

Memiliki mimpi adalah efek dari jiwa-jiwa yang optimis, semangat, kuat dan berkepribadian ke depan. Menulis mimpi-mimpi bukanlah sebuah kesia-siaan, saat sang penulis memiliki karakter jiwa seperti diatas, kuat dan yakin. Namun, pemimpi berbeda dengan ambisius. Karena sifat ambisius adalah saat kita ingin berhasil di segala hal, dalam tiap kompetisi, dan kita ingin menjadi yang terbaik di sana.

Kondisinya, jika suatu ketika si ambisius dihadapkan dengan situasi yang ternyata membuat ia terperangah, bahwa banyak orang-orang hebat di luar sana, terutama di bidang yang sedang ia tekuni dengan ambisinya. Terperangah yang tidak jarang membuat merasa jauh tertinggal, kemudian tidak jarang pula menjadi stress, kepikiran, bahwa sekarang ia sedang di ambang kegagalan, tidak bisa menjadi yang terbaik, parah!

Tulisan ini sama sekali tidak sedang bermaksud mengajak orang-orang untuk tidak bermimpi, tapi justru saya sedang menjabarkan dukungan saya, dan membagi opini tentang dua kondisi yang ternyata berbeda, si Ambisius dan si Pemimpi.

Suatu hari, seorang muslimah yang lebih berpengalaman menyampaikan satu hal yang tak terduga sebelumnya kepada saya, sekitar 5 tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di bangku kuliah semester awal. Usianya memang lebih tua 4 tahun, seorang muslimah yang cerdas, kuat, hebat, bagiku…dengan IP di bidang Kimia nyaris 4, hapalan Al Qur’an yang sudah tidak diragukan lagi, dan dengan segala ujian pribadinya yang saya ketahui, namun ia tetap ikhlas hmm…tidak berlebihan jika kusebut ia cerdas, kuat, hebat, ia adalah teman sekamarku di Kos. Saat bercengkerama disebuah kos-kosan dekat kampus Universitas Mulawarman, di Samarinda.

Ia menyimpulkan tentang saya bahwa, saya ambisius!

Dulu, di awal-awal kelas 2 SMA hingga awal-awal kuliah, saya selalu ingin bisa dalam segala hal, bertanya ini itu yang tidak saya tahu, kadang memaksa untuk diajarkan pada bidang yang sebenarnya perlu waktu lama, sepertinya ini membuat mereka kesal pada saya, membaca banyak buku walau bukan bidangnya, ada yang selesai ada yang sampai sekarang pun belum selesai, saya tidak ingin jika orang lain bisa, namun saya tidak. Buruknya, sifat ambisius saya tidak banyak berefek mempengaruhi masa depan saya! Sungguh hingga suatu ketika teman saya itu mengatakan hal tersebut, dan kemudian ia melanjutkan satu kalimat yang membuat saya agak kaget, saya tidak fokus! Sedih mendengarnya, sedih mengingatnya..

Di sisi satu, semangat saya mempunyai impian bisa di banyak hal yang orang lain disekitar saya tidak bisa, disisi lain saya menjadi lalai pada hal-hal yang seharusnya saya prioritaskan, ambisius ini sungguh buruk untuk saya.

Belum selesai.

Suatu hari, beberapa lama kemudian dari kejadian di atas, saya bersantai dengan seorang muslimah sahabat saya sejak SMA. Darinya saya mendengar kalimat ini untuk pertama kali, “don’t think to be the best, but think do the best”. Sekejap saya semakin yakin, sikap ambisi saya yang amatiran itu sungguh-sungguh mengganggu saya. Labil. Sekejap saya tersadarkan, bahwa mimpi untuk bisa dalam segala hal, menjadi yang terbaik di mana pun saya beraktivitas, hanyalah pengertian lain dari arti ambisius.

Mulai dari sini saya yakin ada yang bisa disimpulkan, bahwa di saat kita berpikir menjadi yang terbaik, kita akan merasa gagal jika ada yang lebih baik, bahkan jauh lebih baik, dan ini berefek buruk, kita merasa tersaingi, dan tanpa sadar atau tidak, kita selalu mencari segala informasi, apakah saya masih yang terbaik atau tidak, sungguh merepotkan! Ini juga adalah hasil dari dialog saya beberapa hari yang lalu dengan seorang sahabat muda yang tidak kalah cerdas dan kuat dengan teman satu kos saya itu. Disebuah kos dimana ia tinggal, saat saya bersilaturrahim.

Sahabat muda yang baru saya kenal belum satu tahun itu menyimpulkan, mimpi untuk menjadi yang terbaik hanyalah cara lain untuk membuat kita menjadi ambisius.

Saya teringat dengan catatannya tentang mimpi, yang diiringi dengan aksi. Menyadarkan bahwa sebuah mimpi-mimpi harus sungguh-sungguh diikuti dengan aksi terbaik, bukan ambisi yang ngalor ngidul, yang mungkin kita tak sadari menyakiti orang-orang disekeliling kita. Menyadarkan saya, bahwa inti dari catatannya itu adalah sebuah aplikasi nyata dan realistis dari kalimat “don’t think to be the best, but think do the best!”

Dengan berpikir demikian, saat mimpi-mimpi kita belum terwujud, kita tetap teguh melakukan aksi terbaik kita. Kita tidak akan merasa jatuh dan gagal, kemudian goyah atau putus asa. Dengan berpikir demikian, kita tidak akan terfokus pada hasil, namun terfokus pada cara kita untuk mencapai mimpi itu. Cara yang baik kah? Atau cara yang kita sendiri telat menyadari ternyata cara kita menzhalimi diri sendiri dan orang lain?!

“Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” ~ Al-Israa’ : 84

“Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula).” ~ Al-An’aam : 135

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” ~ At-Taubah : 105

Keep moving forward, lakukanlah yang terbaik, dan tunggulah kejutan-kejutan dari Allah, yang akan membuat kalian sibuk untuk mensyukurinya. Kejutan-kejutan kecil dan besar, yang terus mengalir deras… :)


Dian Eka
Pojok Jakarta, 01.10 am 8 januari 2010/21 Muharram 1431
__________________________
____________


PS. Bersyukur tak terhingga, penghargaan untuk mbak Yuli Hartati, sahabatku Meita Taury, dan adikku Oki Setiana Dewi, yang telah menginspirasi rangkaian catatan ini...

Senin, 04 Januari 2010

Menjadi diri apa adanya, atau???

Kadang banyak orang selalu mengatakan, ingin menjadi diri sendiri apa adanya… beberapa sangat membanggakan dirinya yang apa adanya, menikmati hidupnya yang apa adanya dia ingin lakukan, menampilkan sosok yang, “ini lho aku..!” ya, menjadi diri sendiri yang inilah aku, dan… jangan protes! O-ow…ujungnya tidak nyaman kudengar.



Ini yang ingin saya angkat.



Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, karena saya sedang menasehati diri sendiri dengan segala renungan yang masih terbata-bata, yang kadang membuat marah pada diri sendiri, “kamu ini selalu saja ceroboh, tersandung kerikil kecil kemudian lalai…” na’udzubillah…



Saya ingin berbagi kisah ukhuwah dan perenungan pribadi ini, sekaligus mengharap bagi yang membacanya bisa merenungi episode ukhuwah masing-masing…dan jika berkenan memberikan nasehatnya untuk saya :)

Suatu hari saya bercengkerama dengan seorang saudari seiman, saya bercerita tentang fenomena akhlak muslimah yang menurut saya pribadi, saya tidak melihat kenaturalan dalam sikapnya, saya (mungkin) masih melihat luarnya saja, yaa..sebatas saya yang sok tahu J saya bercerita dengannya, dan akhirnya saya berkata…



“saya masih merasakan kepura-puraan…” kemudian dia menjawabnya dengan jawaban yang bagi saya sangat baik!

“hmm, mungkin benar, ia sedang berpura-pura, tapi kita bisa saja melihatnya sebagai bentuk usahanya ingin menjadi seseorang yang lebih baik…”



Ya, saya menangkap satu hikmah dari dialog kami itu, terkadang biarlah kita “berpura-pura” HANYA jika kita memang benar-benar ingin jadikan hal tersebut sebagai bentuk usaha untuk menjadi apa yang kita tampilkan itu…yang kemudian kita yakin, ini sebuah akhlak yang tidak salah untuk dipertahankan.

Kembali pada topik menjadi diri apa adanya, saya teringat sebuah lirik sebuah nasyid,



Menjadi diriku

Dengan segala kekurangan

Menjadi diriku

Atas kelebihanku.......



Terimalah aku

Seperti apa adanya

Aku hanya insan biasa

Ku pun tak sempurna



Tetap ku bangga

Atas apa yang ku punya

Setiap waktu ku nikmati

Anugerah hidup yang ku miliki



Syair itu menunjukkan, jika memang demikian pemikiran orang-orang yang ingin menjadi diri sendiri, kemudian ia percaya segala bentuk kekurangan dan kelebihan tetaplah anugerah hidup dari Allah swt, kemudian ia percaya bahwa ia menjadi diri apa adanya yang TANPA diikuti kalimat jangan protes! Maka bagi saya ini adalah hal yang baik, sangat baik bahkan. Bagai pelangi yang berwarna-warni, masing-masing menjadi warnanya sendiri kemudian menjadi indah. Karena ada kegiatan nasehat menasehati disana.



“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Qs Al Ashr : 1-3



Lho, kok kontras dengan opini “kepura-puraan” di paragraph sebelumnya?? Ya mungkin ada yang bertanya tanya :) itulah mengapa saya katakan, “jika demikian”. Menjadi diri apa adanya yang tetap dalam kebaikan, bukan lantas melarang saudara-saudaranya “protes” jika ada yang salah pada diri. Sementara “kepura-puraan” adalah opini lain, saat seseorang memilih untuk “berpura-pura” menjadi orang lain, maka ia harus menghujamkan pada jiwanya, seperti apa yang dikatakan teman bercengkerama saya tadi,



“…sebagai bentuk usahanya menjadi seorang yang lebih baik…”



Mari belajar pada sekolah kehidupan yang pelajaran-pelajarannya berserakan di bumi ALLAH swt…