Jelek amat sih judulnya? Ya, begitulah.. Manusia tak pernah bisa menebak perubahan perasaannya sendiri, membuktikan kalau ada Penguasa hati manusia. Saya percaya itu. Sekuat-kuatnya seseorang, bisa
galau moody juga. Apa sih artinya moody? di google sih artinya murung. Kalau disinonimkan dengan bahasa indonesia yang lain, artinya sedih. Betul tidak? Bukan mau curhat sih, karena memang saya terbilang
tertutup tidak terbiasa curhat di media sosial apapun. Yaa, sebenarnya bisa juga sih dikatakan curhat, tapi lebih nyaman jika disebut sebagai sharing :)
*alesan lagi kan*
Dalam setiap perubahan rasa dalam hati, terkadang manusia berjuang untuk melakukan beberapa hal ; menahan diri, menghibur diri, menyemangati diri, lalu ada yang tidak mempunyai kekuatan lebih untuk mengendalikan diri. Setiap hubungan manusia selalu ada bermacam-macam kejadian, ya. Itu juga tergantung karakter masing-masing orang yang berkumpul dan berinteraksi. Masing-masing melakukan manuver diri untuk membuka interaksi dengan lawan bicaranya. Masing-masing mempunyai cara dan taktiknya sendiri.
Macam-macam kejadian di setiap hubungan memang tak pernah selalu sesuai, pas, atau klop dengan apa yang menjadi "idealisme" saya, kita. Tentunya kita harus tahu ada empat karakter dasar seseorang. Itulah yang memunculkan pelangi di setiap hubungan.
#eaaa *ssstt ok serius!* Tidak pernah ditemukan dalam satu kelompok atau sekumpulan manusia, muda, tua, yang karakternya samaaa semua. Niscaya terjadi gesekan atau perbedaan atau jauhnya harapan yang menjadi penyebab
moody ini. Tapi selalu ada siasat dalam sebuah situasi. Setuju kan? (^.^)
Terkadang di saat kita menyangka telah menemukan sebuah hubungan yang begitu mesra, hangat, atau indah, seolah kitalah satu-satunya yang diperhatikannya, ternyata kita sedikit atau banyak meleset. Pernah? Hehe.. Yang perlu dipahami oleh siapapun di saat seperti itu hanya satu, bahwa manusia tidak diciptakan sama persis. Saya menyukai nasihat
Aa Gym. Selalu menyentuh sisi kemanusiaan seseorang. Apa adanya dan so damn true!
"Jika manusia selalu takut dan sibuk memikirkan penilaian orang lain. Niscaya ia sulit menemukan dirinya dalam pribadi yang dewasa dan matang. Sibuk mengemas topeng, lupa mengemas hati. Mengaku tidak sibuk mengemas topeng, tapi juga tidak mengemas hati.
Kira-kira begitu. Lupa persisnya.
Lalu satu lagi, ada latar belakang yang berbeda-beda yang membentuk sikap seseorang dalam mengambil keputusan. Tentu saya, kita, tidak bisa memaksakan seseorang untuk sama karena hal ini. Kita sama-sama manusia bukan? Saya rasa ada baiknya menyodorkan berbagai tuntutan itu kepada diri sendiri dulu, sebelum mengajak orang lain dengan cara yang sewajarnya. Seperti rasulullah Muhammad,
shalallahu alaihi wasallam, yang menauladankan sebelum menasihatkan dengan sunnah-sunnahnya di dalam hadits.
Jangan terlalu takut karena salah, tapi belajarlah..
Jangan terlalu berani karena benar, tapi bijaklah..
________________________________________